Thursday, July 24, 2014

murah

Waktuku memang terlalu murah, bahkan murahan, untuk menunggumu, orang yang selalu melupakan cara untuk mengingat waktu, Yan.

Monday, July 21, 2014

Yah

"emangnya buka sama ayah di rumah ga enak ya?
tahun depan belum tentu masih lengkap lho. kasih contoh yang baik ke adik."

YAH. Yah. Hati anak perempuan (sulung dan paling diandalkan) mana yang tidak pilu mendengarnya? Kecemburuan membagi waktu bukan hanya milik pasangan di luar sana (termasuk aku), tapi juga orang tua. Mungkin aku harus bersyukur karena memiliki orang tua wiraswasta rumahan sekaligus pacar yang sibuk tiada tanding. Tuhan sepertinya masih adil. Yah?

Yah, berbuka dengan keluarga di rumah memang biasa saja. Karena buka selalu di rumah, selalu masakan ibu, dan ibu tak kenal jajan. Satu-satunya keluarga yg tinggal di Jakarta membuat orang tua terlihat posesif dan protektif pada unsur agamis. Kebiasaan tidak menyalakan tv setelah magrib di hari biasa berimplikasi dengan kebiasaan tarawih berangkat bersama. Ditambah lagi, dilarang keras keramas dan sikat gigi disiang-sore hari. Jadi aku keramas saat sahur atau malam setelah tarawih. Aku terbiasa mandiri untuk urusan karir, tapi yang bersifat teknis akidah... orang tua masih saja mengawasi. Padahal aku sudah berusia kepala dua tapi kebebasan beribadah seperti dituntut. Dan kadang membuat kepala ingin pecah.

Yah, menyoal ayah, yang kegemarannya selama ramadhan ini membimbingku mengaji serta menonton upin-ipin, aku tak mau membantah. Urusan jokowi dan prabowo saja tak berani aku tampil ngotot bahwa jokowi paling benar.

Terima kasih tuhan untuk selalu mengingatkan hal kecil yang patut disyukuri seperti ini, dibalik seribu keluhan (seperti batalnya wacana buka puasa bersama dengan berbagai jenis manusia).

Terima kasih, tuhan. maaf sempat menggugatmu sebelumnya :)

ps: hari ini khatam, besok mulai lagi!

Thursday, July 17, 2014

surat terbuka untuk tuhan

Ketika hari-hari kuliah, harus sabar menunggu akhir pekan. Ketika akhir pekan tiba, harus kalah dengan keluarga.

Ketika minggu ujian, harus sabar menunggu liburan. Ketika liburan tiba, harus kalah dengan urusan karir.

Ketika urusan karir selesai, tiba lagi di hari-hari sibuk.

Entah dimana Tuhan sembunyikan waktu milik kami, ya oke, milikku, atau mungkin memang tak pernah ada.

Apakah benar, Tuhan sediakan waktuku berbahagia di akhir nanti? Di akhir penantian.

Nanti.

Apakah benar nanti itu benar ada. Kapan? Nanti?

Bersyukurlah kalian, bersyukurlah atas waktu yang terus setia mengalir bersama kebutuhan.

Bukan, ini bukan keluhan. Ini hanya surat terbuka untuk Tuhan yang di ramadhan ini katanya menerima doa dari umatnya. Aku hanya menuntut kejelasan akan sebuah "waktu".

Aku hanya takut kesabaranku selama ini sia-sia. Aku takut kesabaran ini tak terbayar. Aku takut aku hanya menjadi pengecut karena terperangkap di kehidupan orang lain.

Apakah benar, waktu itu akan datang?

Dari Nihaya,
Yang terlalu sabar untuk memaknai waktu.

Thursday, July 3, 2014

Kusaksikan kau datang

Baca judulnya seakan salah kamar ya? Harusnya kan masuk di halaman blog satu lagi. Tapi ini bukan sedang membacakan syair sih. Mau review saja menyoal musik *tsaah.

KarnaTra.

Berawal dari hobi mantengin website MBDC, berujung kepoin backsong nya dan.... jenjeng!
Recommended deh untuk yang...... Ya gitu. Paling mantep sih yang Heroine..... entah ya.. Begitulah.



Wednesday, May 14, 2014

May

Maybe it's true if they say : there's always that one person who you never really get over. No matter how many other people who treat me better. Because I love you for all that you are, all that you have been and all you're yet to be. Don't you know, nothing would be the same if you didn't exist? with the bad and the good things? with all those pain and happiness?

I know that you're no longer count the Fourteen or talk about our  anniversary or blablabla. So let me say a simple thank you for growing old with me since 2010.
Thank-you-yan.

I'm happy to see you-and-your-special-eyes again on this historical May.
Even not today, or tomorrow.

Best gratitude,
Nihaya.

Monday, May 12, 2014

Rindu dan Peluk

Bukan, ini bukan menyoal Ryanda. Tak ada kaitannya. Tapi tak apa kan bila aku masukkan dalam label? Ya. Ini seputar Payung Teduh, yang katanya keren itu. Yang harganya makin mahal itu. Yang tiap acaranya melibatkan tempat aku bekerja sebagai media partner tapi aku belum pernah meliputnya. Ya.. Yang liriknya syahdu itu. Lebih syahdu dari lagu-lagu luar negri yang kalian bilang keren.

I'm a big fan of culture. Mendengar senandung payung teduh yang amat bernuansa Indonesia, aku terpaku sekaligus terpukau. Tepat sekitar tiga tahun lalu, akhir masa sekolah. Baru mulai mengikuti ya sejak kuliah semester satu sih. Sesuatu yang bernada syahdu sangat amat membuat hatiku tenang. Bait-baitnya bagiku mudah diingat, diksi yang sangat itu-itu saja, tidak membosankan. Malah menjadi ciri khas. Ah ya.

Tahu kan, kalau aku amat egois dan emosian. Nah, dengan lagu ini, hidup mengalir perlahan tanpa teringat waktu. Tak ada rasa dikejar deadline atau diburu tagihan atasan. Lagu yang paling sering kuputar tentunya Resah, seperti orang kebanyakan.

Namun setelah dihayati (bukan nufus), Untuk Perempuan Yang Sedang Dalam Pelukan itu sangat sangat......... Ya, peluk saja. Oh ya satu lagi! Angin pujaan hujan! Rinduku berbuah lara. Lara. Lara.

Nah sebenarnya sebelum membahas payung teduh, aku sedang menonton youtube dari Banda Neira. Di paruh waktu, rindu, ke entah berantah. Pertanyaan klasik, apakah Banda Neira sudah pernah ke Banda Neira?



Yang jelas, Rara Sekar itu sosok yang mengagumkan terlepas dari urusan musik. Ia, bagian dari Indonesia Mengajar. Dan itu sudah lebih dari cukup untuk mengatakan ia adalah sosok mulia. Terima kasih.

Saturday, May 3, 2014

Stuck on The Puzzle - submarine

Hai, ditengah kekesalanku karena laptop tak bisa menekan huruf T dengan cekatan (berkat terselip butiran nasi), aku memutuskan untuk.... ngeblog hehe. Ditengah ke rumitan tugas kuliah dengan ebook yang membebani mata.... ada baiknya memang mengharubirukan mata sekalian.

Jadi beberapa waktu lalu aku mulai suka nonton film di laptop, yaa setelah bete karena jarang ke bioskop seperti awal-awal kuliah dulu. Mau gak mau menikmati film-film para sineas he he he. Satu rule nya sih, jangan film korea. Benteng pertahananku amat kuat dari jaman SMA untuk tidak menonton film korea. Sorry to say.

Hingga pacar sendiri merekomemdasikan beberapa film dan seorang teman karib pun memberi rekomendasi film lainnya. Submarine. Bagus sih ceritanya tapi jauh dari kesan modern. Sederhana sekali. Tapi memang jadi menikmati alurnya. Ga riweh riweh dengan noise yang menimbulkan banyak gap. Tapi sepertinya lebih bagus bukunya. Dan soundtrack nya. Stuck on The Puzzle. Mohon maaf kalau sangat #solastyear dan istilah lainnya. Tapi ini berhasil mengalirkan air mata dalam keadaan apapun tubuh kita. FUUUUH.

Ini bukan lagu si alex turner pertama yang jd favorit sih, sempat menyukai mardybum.. crying lightning.. Tapi yang ini kayaknya fleksibel gitu dinyanyiin siapa aja bakal nangis. Walau pacar sendiri belum pernah nyanyiin. BUZZZ.



I'm not the kind of fool who's gonna sit and sing to you, about stars, girl.

Friday, April 25, 2014

Cari aku!

Hai. Kamu mencariku? Di halaman ini? Kau kira aku akan menuturkan segala keluhku tentangmu disini?

Oh ya tentu tidak. Aku memiliki banyak buku yang bisa kutorehkan pena sakit hati.

Sampai jumpa.
Akan ku temui mu segera setelah segalanya lebih dari runtuh.