Wednesday, April 16, 2014

hai lagi!

Hai, apa kabar.
Lama tak bersua disini. Alhamdulillah semua berjalan lancar. Meskipun banyak hal (sedikit)buruk terjadi. Tapi semua berjalan beriringan dengan hal baik lainnya. Rindu rasanya berceloteh di laman blog yang satu lagi itu, juga.. di tumblr atau pinterest. Rindu menuliskan apa-apa yang terjadi tentang diriku tanpa tahu siapa yang akan membaca (bukan seperti twitter/path). Ya. Bulan April ini, seperti titik balik saya yang sangat bosan dengan rutinitas. Mampu tapi tak mau. Mungkin saya dianggap banyak beralasan. Apalah yang mereka katakan. Toh, di awal perkuliahan saya telah totalitas belajar. Dan saya hanya manusia biasa. Penat. Anti klimaks. Kalau dulu mereka yang tidak betah di kampus sering menertawakanku yang totalitas di kampus, kini, saya yang dinyinyirkan karena selalu berharap libur, bahkan sering meliburkan diri. Haha. Saya lebih memilih latihan dan liputan daripada kuliah. Terserah. Saya semakin merasa dijebak dengan penilaian kognitif, dan saya ingin buktikan saya tidak bagus dibidang akademik saja, dan akan saya buktikan kalau saya memiliki hal yang lebih menarik minat dan menjanjikan di masa depan. I build my career from today.

Mengenai PPL, alhamdulillah saya mendapat tim yang solid. Maksudnya, tim yang saling melengkapi. Semoga saya tidak menjadi orang yang menyebalkan.

Semoga nantinya bisa mendapat ilmu yang lebih nyata. Hidup Mahasiswa! Tiduuuuurrr.

Maaf agak sarkas. Ini gayaku. Kalau membenci sarkasku, silahkan tutup laman ini dan lanjutkan drama dilamanmu.

Kesehatan memang segalanya. Disiplin akan kebersihan adalah kuncinya. Biar mereka berkata apa. Gula, gorengan, santan, mulai dikurangi. Kurangi saja. Bukan tidak sama sekali. I'm human too. Nabung lagi, nabung terus. Buat ibu senang dan bangga. Tahan beli ini itu yang tidak akan membuatku mati bila tidak membelinya. Tahan untuk tidak ikut campur urusan ibu dan adik. Tahan untuk tidak naik darah ketika ada orang bodoh menghina ibuku.

Tahan pula tidak berjumpa dengan pacar. Rindu? Pasti. Saya menaruh hormat dengan mereka yang LDR berpuluh--bahkan bermilyar-milyar kilometer. Ah, kalian inspirasi saya. Jarak saya tidak ada apa-apanya dibandingkan kalian yang hidup berbeda pulau. Saya berikan senyum kecut untuk yang masih berteriak rindu ketika weekend datang saja. Saya memberi dukungan untuk mereka yang selalu menjaga perasaan pasangannya dari hari ke hari. Cinta lebih dari sekedar perjumpaan. Sekalinya jumpa pun langsung berpulang ke rumah masing-masing. CIYEE. Biarkan kami berkhayal dalam putaran waktu masing-masing. Biarkan kami membanjiri alam mimpi dengan setumpuk harapan. Daripada harus membanjiri timeline twitter/lainnya karena lama tak sersua. Ya sesekali boleh. Ya. Bukan. Bukan. Saya bicara seperti ini karena memang, ya, ya, iri, dengki, pecundang. Kalau di film petualangan sherina sih udah gelinding dari atas puncak. Maaf.

Jerawat. Mendadak semakin banyak. Mungkin karena sering setres. Malas. Tidur sembarang waktu. Ya begitulah. Anak muda tak tahu aturan. Sama seperti jutaan orang diluar sana.

Usaha.. Jualan.. Alhamdulillah sudah lebih baik. Terkadang mesti di pancing dengan yang mainstream untuk menghasilkan karya anti mainstream. Yeayyy. Semangat buat kalian yang sedang berbisnis! Semangat juga orang-orang pabrik!

Sekali lagi, maaf kalau saya sarkas. Saya tak suka dibohongi oleh perasaan sendiri. Saya pun tak suka berbohong. Saya apa adanya, tak suka menyimpan hal yang bisa membuat orang lain berprasangka lain. Ya ini demi kebaikan bersama. Pahit di depan selalu lebih baik. Seperti kuliah........ pahit didepan, manis sambil males-malesan dibelakang. Hehehe.

Saturday, March 29, 2014

Akhirnya, akhir maret.

AKHIRNYA SAYA KEMBALIIII.

Uts belum selesai. Tugas numpuk. Prsentasi menanti. Artikel berserakan. Orderan phonecase sepi. Ingus meler. Perut melilit. Batuk everytime. Jerawat dimanamana. Ya intinya harus bersyukur, ditengah kesulitan selalu ada jalan untuk menjadikannya “sederhana”. Karena kalau kata pepatah, it’s simple but it’s not easy.

Saya kembali ketika harus kembali. Dengan setumpuk kabar baik (setelah melewati duka juga tentunya) dibulan februari hingga maret ini. Artikelku dapat penghargaan dari Bapak Dahlan Iskan^^ Lalu Seulanga juara 1 di psyco expo. Trs bisa ke jungleland gratis bareng teman-teman kesayanganku.Trs dpt beberapa job dan penantian artikel untuk di garap. Oh-my-gosh.  Dan yang pasti, bisa liat rambut yanda normal. AKHIRNYA YANDA POTONG RAMBUT. HOREEEE. Rasanya seneng dan bangga gitu :"") pacarku jadi manusia lagi. Pokoknya ga boleh ngeluh, harus bersyukur terus!  Lalu banyak hal baik lainnya... Meskipun (sialnya) maju menjadi mawapres fakultas mewakili jurusan. I’m proud of me but I’m not happy, I’m not a kind of ... Yeah. Don’t ever call me as oustanding students a.k.a mawapres again. I’m proud to be myself.

Terima kasih, terima kasih untuk ibu yang selalu meyakinkan keputusanku dalam galaknya. Ibu yang percaya aku masih menjadi anak “ibu”. Ibu yang percaya someday anak ingusannya ini bisa membanggakannya. Ibu yang selalu ingatkanku, kesehatan nomor satu, uang dan popularitas tidak dibawa mati. Ibu yang selama hampir 15tahun ini berkata “bawa bekal kalau gak mau sakit” J

Gak sabar menuju april, mei, juni dan......... jenjeng saatnya magang. Gak sabar menyudahi predikat “mahasiswa” terus pake toga bareng anggit :””) ya kalo pake toga bareng yanda mah hanya harapan yang tak mungkin diwujudkan.


Selamat berjuang, sampai jumpa di bulan selanjutnya!

Monday, February 10, 2014

Writing: a little bit of everything

“reading brings knowledge, writing brings wisdom”

Untuk yang mengenal saya sejak SD mungkin paham kelakuan saya. Bukan anak cerdas matematika, tapi senang mata pelajaran Bahasa Indonesia. Hobinya saat SMP baca teenlit terus. Pernah tertarik banget jadi penulis (sampe beli buku panduan menulis saat tahun 2006 silam). Kemudian pupus karena mulai sibuk urusan pelajaran SMA (matematika membunuhku) dan percintaan, ceilah. Intinya sih males. Belum punya cara mempertahankan passion membaca dan menulis.

Hingga kemudian musim blogger di tahun 2009 awal di kalangan teman-teman. Ya saya wajib banget punya blogger sepertinya. Mulai deh nulis. Kayak alay gitu, nulisnya ga beraturan, nyablak, ketawa tiwi, heboh sendiri. Tapi yang baca seneng, katanya saya pelawak. Huf. Hingga sering nyoba ganti html desain template blognya. Lalu.... jadi.. suka.. desain.. edit ini itu, blend yang ini dan itu. Terima kasih terbesar ditujukan pada nadya chairunisa yang mengajari saya Adobe pertama kali. All about adobe, ga cuma photosop. Pada akhirnya blog saya ga ada nilai desainnya, secara komunikasi visual ya ga dapet deh. Lalu masuklah di TP, singkat cerita. Katanya sih bisa belajar desain disitu. Faktanya? Ya gitu, teknologi kinerja mengalihkan perhatian saya. Otak saya penuh ide-ide mengenai manusia dan kinerjanya. Saya lebih senang berteori tentang manusia dan kinerjanya, memperdebatkan performa mereka. Juga performa saya.

Saya pun memikirkan bagaimana meningkatkan kualitas diri saya, akhirnya saya mencari kegiatan magang. Hingga sampailah pada gedung Koran Sindo. Well, balik lagi pada menulis. Ide-ide menulis berdatangan dari kata “manusia” yang selalu punya hal untuk diperdebatkan. Sudah ada 5 artikel diterbitkan atas nama saya. Liputan-liputan, interview, hingga workshop jurnalistik sudah diikuti. Dan kini mulai aktif jadi reporter di Kampus Update. See? Menulis lagi. Lagi-dan lagi. meskipun kalau di Kampus Update ini sedikit berbeda dengan sindo, tetap saja, isi otakku hanya menulis dan menulis. Belum lagi tugas kuliah isinya makalah, paper, analisis skripsi, proposal dan lain sebagainya.
Baca-tulis itu seperti siklus tiada putus. Mata rantai kehidupan dari seorang yang mau berkembang. Yang buta saja bisa menulis, apalagi kita. Read and write itu seperti learn and share. Gali dan sebarkan, temukan ide dan tuang. Sedalam apapun aku mengubur mimpi menjadi penulis, aku akan bergantung pada kata “menulis” itu selamanya. Menulis itu ada dimana-mana, menulis itu sebagian kecil dari setiap lini kehidupan.


Monday, January 6, 2014

SEMANGAT GIT!

Ini sampah banget sebenernya nge-post blog setelah baca blog anggit. Huhuhu i feel you, git. Dulu pernah diposisi terlalu nyebelin ...lalu satu permintaan ga dituruti... hingga kemudian berpikir pergi..... yang ini jangan ditiru :””” ya pokoknya semangat. Aku tahu kamu sudah jauh lebih kuat dari 2011 ketika aku menemukanmu terseok di depan HMJ. Ya ada saatnya permasalahan dalam hubungan gak sekedar manja dan memanjakan, tapi masalah skripsi dan wisuda barangkali? Hehe. Tetaplah yakin dan menguatkan diri. Sarkas sesekali boleh. Sok cerdas sesekali boleh. Pribadimu sudah terbentuk lebih kuat dari hari kemarin, maka kamu pun sudah harus siap menempuh ujian selanjutnya. Teruslah berjuang, teruslah berjalan beriringan. Jangan berhenti melangkah. Jangan, jangan ditiru nihaya yang dulu. JANGAAAN.

Selain mau kasih semangat buat anggit saya juga mau kasih semangat untuuuk.... Yaaaaanda! Pria ini akhirnya sadar bahwa dia sudah berada jauh dari jalan yang lurus (apasih) ya intinya ia ingin meraih titik terbaiknya sebagai manusia. dimulai dari hati. Dan memang, ini sulit. Ngetok pintu hatinya buat balikan itu masih gampang, ngetok hatinya buat liat keberadaan lingkungannya? Susah banget. But i’ll always be here for everything you need kalo kata yanda (2 november 2011). Aku yakin...pelan-pelan semuanya akan jadi lebih baik, asalkan yanda sabar dan aku juga ekstra sabar. Ga boleh nangis kalo ga ketemu seminggu J kalopun nangis ya jangan bilang yanda J ga boleh nagih kalimat i-love-you ke yanda ditiap pagi dan malam, karena masih ada stok ribuan hari didepan J optimis terooos, ngigoo teroosJ bodo amatJ kalo gak begini ya mana bisa tahanJ kalo ga ada tujuan ya gimana kuat susah-susahanJ

ya pokoknya semangat belaajar buat kamu! Jangankan yanda, orang baru dikenal aja kalo emang niat belajar ya harus diapresiasi. Entah mengapa dan sejak kapan aku senaaaaang sekali membantu orang “belajar”. UNJ itu bukan Cuma jadi guru sob, tapi jadi manusia yang membelajarkan!

Semangat juga untuk mbak es dan kak dit yang sedang prepare program pelatihan di lembaga saya bernaung. Ah ya, belum cerita kalau aku udah magang di koran sindo dan kampus update. Ya pokoknya gitu. Berterima kasihlah pada waktu, waktu yang sempit. Ketika yanda ga punya waktu buat aku, aku punya kegiatan lain yang membutuhkan kehadiranku....... Apalah. Ya intinya sih semoga liburan ini bisa produktif dengan jumpa para orang-orang hebat, pun calon-calon hebat. Tak sabar rasanya!

Oh ya tak sabar juga jalan-jalan men dengan teman-teman! See you soon!

Sunday, January 5, 2014

Hitam Putih

Pagi yang biasa untuk menikmati sarapan masakan ibu sembari menyaksikan tayangan televisi. Ada iklan mengenai “New Hitam Putih”. Kalian tau acara ini kan pastinya? Acara yang awalnya keren.. banyak mengulas perjalanan hidup orang serta prestasi masyarakat Indonesia. Namun lama kelamaan jarang kutonton karena isinya seperti infotainment. Heboh sendiri. Ya mirip acara show imah.

 Aku sih ga kaget melihat iklan New Hitam Putih, kemarin sempat melihat sekilas kalau tayangan ini dibawakan oleh orang lain (komedian ternama). Karena aku hanya menonton tak sampai 30 detik, ku pikir Hitam Putih hanya membuat inovasi dengan menambah segmen dengan host lain. Settingan studio memang agak berbeda, tapi aku tak ada firasat apa-apa. Hingga kemudian membaca twitter dari Bang @Pandji (twitter.com/pandji) mengenai mundurnya Deddy Corbuzier dari Hitam Putih dan digantikan oleh seorang ... Well sebutlah entertainer (karena ia sudah tak pantas disebut pengacara, bukan juga politisi, apalagi seniman, ya cukup penghibur saja). Suasana pagi itu di timeline belum rusuh, isinya masih @Pandji dan komentar para follower nya, termasuk saya. saya yakin berita ini belum banyak menyebar. Dan siang tadi, timeline twitter sangat heboh, penuh caci maki terhadap acara ini dan menyayangkan mengapa Om Deddy membiarkan acaranya diambil alih oleh orang tak jelas.

Tak perlu banyak menggerutu sebenarnya, cukup baca timeline twitter Om Deddy. Beliau mengatakan bahwa “program tv terpaksa di dumb it down atau dibikin goblok demi mendapatkan perhatian masyarakat kelas bawah, karena  share 50% berasal dari sana”. Aku saat itu tersenyum lega, tandanya Om Deddy sebenarnya sadar kalau ia sudah terlalu jauh keluar dari format asli Hitam Putih. Dan ia pun tak perlu banyak adu otot dengan host barunya, ibaratnya “monggo diabisin”.

Kalau liat lagi tweet Om Deddy ada yang isinya begini “luar biasanya hanya Indonesia yg punya alay dan bangga menjadi alar. Why? Karena mereka dibutuhikan industri tv” yes, secara implisit Om ini menunjuk pada acara yang memiliki penonton heboh dengan goyang streching di pagi dan sore (bahkan malam hari). Program yang tayang di prime time dan disiarkan SETIAP HARI. Masih banyak lagi isi tweet Om Deddy yang ternyata membuat saya yakin, bukan cuma saya atau pacar saya atau tokoh seperti Pandji saja yang sudah gemas melihat acara tv.

Om Deddy pun seperti tak rela figurnya terlalu banyak disandingkan oleh host-host pengumbar acara musik yang diselingi sesi  gosip hipnosis/hipnotis/relaksasi. Ia mengakui bahwa ia magician, ia mampu melakukan hipnosis, namun tak perlu dilakukan dengan rekayasa. Saya yakin banyak yang berfikir mundurnya Deddy ini TAK ADA KAITANNYA dengan tayangan program-program lainnya. mari kita cek program lainnya.

“TAYANGANNYA KREATIF KOK, TETAP UP TO DATE”
Well, memang kreatif. Settingan studionya bisa miring-miring, propertinya keren, studio mewah. Desain logo dan bannernya pun up-to-date. Semua program yang hostnya itu-itu-lagi memiliki penonton yang itu-itu-juga. Ditambah lagi era media sosial dr twitter hingga instagram, makin merakyatlah acara ini. Yes, kreatif. Ya kalo memang kreatif, harusnya tak perlu ada yang “mengekor” hingga host nya ikutan mengekor dong. Di Dahsyat sukses Billy dan Nanas, lalu di YKS mereka ikut direkrut. Di MNC sukses Uya Kuya, lalu di Dahsyat ikutan ngundang Uya Kuya beserta anaknya. Kreatif yang menjiplak, bahkan aktornya sendiri rela diduplikasi, bahkan mereka berpindah tempat syuting tanpa mengganti bajunya. Jadi ya kalo kita nonton dari rumah ya ga ada bedanya. Seperti gak ada yang ngurus wardrobe.

Berbanding terbalik dengan acara di Net TV seperti Sarah Sechan dan The Comments. Tayang tiap hari, berbeda bintang tamu, beda tema, beda penonton, beda baju juga (wardrobe nya beneran kerja). Kreatifnya benar-benar terlihat ketika mereka memiliki host yang special edition, gak kerja di stasiun tv lain. Dari Indonesia Morning Show, sampai entertainment news. Di Net TV favorit saya ya  Lentera Indonesia, isinya dokumentasi para Pengajar Muda dari Indonesia Mengajar yang bekerja di pedalaman. Saya sangat tahu, acara seperti ini SEDIKIT penontonnya. Karena gak seru, sekolahannya miskin dan gak gaul. Beda sama sinetron Diam-Diam Suka.

“AKU BISA MILIH-MILIH KOK, GAK TIAP HARI NONTON JUGA”
Yeaaay, it’s not about you, it’s about our “people”. Masa depan bangsa mau dibawa kemana. Ya ibarat kalo cowok 17 tahun keatas, nonton bokep, sekali-sekali, normal. Tapi ketika nonton bokep rame-rame sama temennya......dan ketika ia masih usia 10 tahun... Tega liatnya? Masa depan mereka mau dibawa kemana, psikis mereka, serta moral.. (ga mau bahas agama karena di agama aku sih udah jelas ga boleh).

Sama halnya seperti nonton YKS, somehow nonton seminggu sekali ya it’s fun. Ga mengkhawatirkan psikis saya. Tapi ketika saya harus menonton bersama adik saya yang masih SMP, remote pun saya kuasai (lalu kembali ke Net TV atau Kompas TV). Nonton YKS beserta kawan2nya.... yang durasinya melebihi porsi acara religi di subuh buta atau dikala natal tiba, bahkan melebihi durasi pengibaran bendera ketika 17agustusan.... Well... Ini bukan masalah “aku” yang bisa milih-milih atau “aku” yang sudah punya kontrol diri. Awareness kita harus dipertajam. Kita mungkin jarang dirumah, tapi adik-adik kita? Mungkin kita ga punya adik, tapi sodara-sodara kita? Mungkin juga ga punya sodara, tapi coba deh, ntar kalo punya anak, mau gak pas kita pulang kantor...liat anak kita niruin Caesar goyang-goyang?

Intinya, kita gak bisa selamanya mengontrol orang lain untuk tidak menonton..
Tapi kita bisa buat tayangan tv itu layak untuk tidak di kontrol...

“YANG LAIN SUKA KOK, KAMU KENAPA REPOT BANGET, SOK PERFEKKK”
Ininih yang paling sering didenger. Aku suka, yang lain juga suka. Beda selera. Begitu maksudnya? Tidak. Tidak ada pembatasan selera, tidak ada sekat mana selera  orang kaya atau miskin, selera orang indies atau selera orang dangdut. Deddy corbuzier, Pandji, Anies baswedan, Raditya dika, Kukuh, mereka mengkritisi tayangan tv namun  berbeda latar belakang. Genre musik mereka beda-beda, asal kota mereka juga beda.

“Aku suka, yang lainnya suka?” Tapi pas Om Deddy digantikan oleh Farhat Abbas, kalian marah-marah? Ups. Aku ga may bilang kalian bodoh. Kalian pintar, knowledge kalian diatas rata-rata (karena sudah bisa bedakan mana host yang oke atau yg kacrut) tapi kalian kurang peka, pintarnya tidak diolah jadi cerdas. Maaf kalau agak menusuk ya kata-katanya.

Kembali ke pertanyaan tadi, “yang lain suka kok, kamu kenapa repot?”. Jadi, kamu suka jadi penonton yang goyang-goyang dengan set baju dari sponsor? Kamu suka dihipnotis terus bongkar aib bersama mantan di tayangkan di tv? Kamu suka berantem di acara talkshow A kemudian berdamai di talkshow B? Kamu suka diatur oleh orang lain, dikekang kreativitasnya atas nama rating? Ya ini sih sama halnya kalau kamu setuju sama sistem ujian nasional di Indonesia saat ini. Sama persis.

“TERUS KAMU PUNYA SOLUSI? KITA ANAK MUDA, BISA APA SIH?”
Lalu solusinya? Persis juga seperti UN. Bukan di hapus UN nya, tapi ubah sistemnya. Bukan buang tv nya, tapi benerin stasiun tv nya. Terus mikir, kita anak muda, bisa apa? Duh, kalian tau pepatah Bung Karno kan? Nah. Inget-inget lagi betapa pentingnya pemuda, betapa kuatnya pemuda. Kalau kalian mikir aku terlalu idealis, maka cek siapa karyawan transtv, rcti, dll. Mereka anak muda, beberapa masih magang. Seharusnya mereka menjadi agen perubahan. Ya minimal jadi opinion leader, atau minimal bisa ngebuka hati para pemegang saham di stasiun tv. Buka hati ya, karena mata dan telinga mereka sebenarnya masih berfungsi kok J mereka, para penguasa stasiun tv sudah tahu bahwa ini tayangan tak mendidik sekaligus tak menuntun. Tapi ya, uang adalah segalanya.

Justru kalau bukan kita ya siapa lagi, kita yang nantinya duduk di balik meja broadcaster. Kita pula yang nantinya membesarkan anak yang hidup dengan televisi. Dengan kita berhenti menonton, diikuti satu-satu, sepuluh-sepuluh, seribu-dua ribu teman-teman kita ...rating program kacang itu akan merosot.

“PASTI LAMA PROSESNYA, GA BISA CEPET”
Fuck this. Nikmati prosesnya. Buat apa cepet-cepet? Ujungnya jelek dan ancur lagi kayak sebelumnya. Memang akan memakan waktu lama untuk mengubah sistem yang bobrok, tapi gak lebih lama dari memberantas korupsi kayaknya. Atau balapan aja nih? Korupsi dulu yang ilang atau stasiun tv nakal? Atau jangan-jangan mereka punya keterkaitan yang membuat susaaaah banget dibuang? Ya pokoknya usaha dulu. Mau gagal atau berhasil, ya coba dulu. Kamu coba jadi bagian perubahan, bagian orang yang peduli dan peka. Peduli, ga Cuma peka. Peka itu rasa, peduli itu tindakan.  Kamu sebarin virus kebajikan ke teman-teman terdekat, beri penyadaran dan juga beri waktu mereka berpikir.

Semua butuh proses, namanya juga belajar. Jangan pakai teori behavioristik untuk bangun bangsa ini, pake konstruktivistik. Jangan paksa mereka untuk membenci YKS dan kawan-kawan, biarkan mereka bangun pemahaman sendiri dan menemukan spot yang harus dibuang.

Aku beruntung punya orang tua (terutama Ayah) yang sudah cerdas membedakan mana tayangan yang “bagus” dan yang Cuma nyari rating. Mana yang hanya tontonan, mana yang jadi tuntunan. Dari aku TK, ayah sering mengkritisi tayangan sinetron yang aneh-aneh. Hingga sekarang di era bubur naik haji pun masih sama.


Beruntung pula pacarku sudah beberapa bulan jarang menonton tv, kecuali ada info musik di twitter lalu ia nyalain tv. Sampa-sampai pacarku gatau kalo Net TV acaranya itu cerdas dan menyehatkan. Pacarku mungkin lebih jauh membenci industri tv, terutama industri musik di televisi. Pacarku terlalu memvonis buruk semuanya dan kadang aku harus ngomel dulu agar dia mau berpikiran terbuka. Ya susah juga hidup di keadaan yang tengah-tengah ini. Tapi tidak dilematis sih. Semua pasti bisa dilampaui. Bergerak dari sekarang, karena masa depan benar-benar ditangan kita, di remote tv kita.

Salam hangat, Nihaya.

Tuesday, December 31, 2013

resolusi

Hai, saat ini sudah pukul 21.56 waktu indonesia bagian cilegon. Update blog seperti dikejargemuruh anggin saja. Ya memang seperti diterpa angin topan. Baru saja terjadi. Ketiks saya memuliakan tahun 2013 dengan berbagai keberkahan yang diberi tuhan, serta kerendahan hatiku untuk tidak banyak meminta ditahun 2014, kamu.. iya, kamu justru mengirim pesan yang.. ya aku tahu, itu sepele dan biasa saja. Tapi, aku semakin tersadar, bahwa tak akan pernah luka itu sembuh. Tak akan pernah kisah itu lapuk. Tak akan pernah yang hilang kan kembali. Dan juga tak akan kembali segala yang telah sengaja dihilangkan. Betapapun aku meminta dan berusaha memberi keutuhan hidup padamu, ya kamu tak akan bisa menerima itu semua. Akan diungkit lagi, lagi, dan lagi. Akan terpelihaara segala nanah luka dihati mu, dan tergores pula luka di diriku. Ya entah. Entah sampai kapan, padahal ini sudah melewati satu tahun kembalinya kami.

Mengapa tak sedari tahun yang lalu kamu melempar jokes seperti itu? Mengapa kau ijinkanku memulai mimpi dan harapan untuk mengubur masa lalu yang kelam. Mengapa, mengapa aku pergi meninggalkanmu, pasti itu jawabmu.

Terima kasih sudah mengingatkanku akan resolusiku ditahun tahun sebelumnya. Terima kasih sudah mengingatkanku akan pentingnya bersyukur dan berkaca. Kamu, hanya kamu yang membuatku sadar kalau aku tak akan pernah bisa lebih bodoh dari kamu.

Terima kasih, ryanda.

Saturday, December 28, 2013

2013, berjuang, berkembang.

sembari mendengarkan lagu remember december dari demi lovato, aku mulai kaleidoskop sepanjang 2013 ini. yang..semoga saja bisa singkat dan mudah dipahami he he 2013 adalah tahun penuh "perjuangan" di segala lini. berbeda dengan 2012 yang isinya galau dan tak ada tujuan hidup.



2013 itu tentang

  1. bagaimana memperkuat klub saman dengan dua telapak tangan ini
  2. bagaimana menyembuhkan luka dua hati yang berlainan
  3. bagaimana mengukuhkan siapa teman terbaik dan siapa yang teristimewa
  4. bagaimana menghabiskan waktu bersama keluarga
  5. bagaimana memahami arti penting ayah dan mama di rumah
  6. bagaimana membuat kehadiran bayi-bayi mendekatkan jarak jakarta-cilegon
  7. bagaimana melupakan mimpi untuk memiliki yanda yang "sehat" kembali
  8. bagaimana memaklumi yanda beserta band dan komunitasnya
  9. bagaimana mengikis amarah dan benci tentang keadaan di akhir pekan
  10. bagaimana melembutkan hati pada orang-orang yang pantas diberi cinta
  11. bagimana menitipkan harapan pada tuhan setiap sembahyangku, mengenai segala mimpiku
  12. bagaimana keterbatasan internet dan gadget canggih, bisa keep in touch dg para boss
  13. bagaimana jakarta selatan berhasil menjadi destinasi favorit per-minggunya meskipun macet minta ampun
  14. bagaimana membuka hati dan pikiran untuk melihat kesempatan yang besar
  15. bagaimana menyadari "belanja" tidak pernah menjadi hobiku, semoga seumur hidup tak akan pernah
  16. bagaimana menggunakan uang beasiswa hanya sekedar memindahkan rekening saja
  17. bagaimana rasa malas ketika harus menghitung uang jualan pulsa
  18. bagaimana uang lahir dari hasil kunjungan liputanmu dan tulisanmu sendiri
  19. bagaimana weekend dibagi untuk keluarga, sindo, kampus update, tugas kuliah dan tugas adik
  20. bagaimana rekening diisi oleh artikel di koran sindo dan kampus update (lalu kini investoreid)
  21. bagaimana membiarkan namaku diremehkan dan dihina oleh kawan dekat
  22. bagaimana keegoisan merasuk ke diri, tak apa asal tetap konsisten
  23. bagaimana bersyukur bisa menjadi bumerang teramat sakit untukku
  24. bagaimana bertemu para anak muda yang juga sedang meniti karir, lalu kucuri ilmunya
  25. bagaimana melihat satu topik dikupas dengan berbagai pendekatan dan cara pikir
  26. bagaimana memaknai hidup lebih dari senang-senang dg pacar yg mungkin tak kekal
  27. bagaimana satu disiplin ilmu diterapkan untuk tugas disiplin ilmu yg lainnya
  28. bagaimana melayani orang yang memang ingin dilayani saja
  29. bagaimana meninggalkan mereka yang tak ingin dilayani, tak ingin diajak "berkawan"
  30. bagaimana mensyukuri duduk di bangku metromini dan bisa menyebrang tanpa ragu
  31. bagaimana dianggap menyebalkan karena emosiku yang meletup letup
  32. bagaimana membuat mereka sadar bahwa emosiku adalah bentuk lain kasih sayangku
  33. bagaimana suatu saat mereka sadar bahwa dunia butuh orang yang tegas, bukan orang yang bergantung pada manusia lain
  34. bagaimana kecintaanmu menghasilkan hal yang turut menjadi kecintaanku baru
  35. bagaimana mengagumi orang lain melalui tulisannya, melalui pola pikirnya, melalui tatap matanya
  36. bagaimana membuka diri pada orang lain, belajar dan terus belajar
  37. bagaimana membenarkan bahwa cemburu bukan sebuah tanda cinta
  38. bagaimana setiap manusia wajib memelihara hubungan dg manusia di masa lalu dan masa depan
  39. bagaimana skripsi wajib dikaji dan perpustakaan semakin akrab dikunjungi
  40. bagaimana akhir semester bukan sekedar uas tertulis
  41. bagaimana produk buku, laporan, kajian dibuat dalam bentuk yang "unik"
  42. bagaimana bolos kuliah hanya untuk saman dan saman lagi
  43. bagaimana metromini menjadi tempat yang nyaman untuk terlelap
  44. bagaimana teman-teman SMA dan SMP selalu kurindukan dan tetap diposisi terbaiknya
  45. bagaimana mereka yang tak mengenalku, hadir dan terus menolongku
  46. bagaimana teman-teman yang unik menjadi kado ulang tahun terbaik
  47. bagaimana membiarkan @nailestari ditulis lebih dulu daripada isi pesan twitternya
  48. bagaimana blog nais diduakan oleh kehadiran predikat
  49. bagaimana tumblr tergantikan oleh pinterest
  50. bagaimana membiarkan diri tertinggal oleh trend instagram, path, iphone, android, dll
  51. bagaimana menjual phone case dr hp mahal nan kece melalu hp butut ini
  52. bagaimana pecel pincuk menjadi favorit, dan biaya pacaran menjadi jauh lebih murah
  53. bagaimana meninggalkan kebiasaan pizza dan junkfood lainnya
  54. bagaimana meyakinkan diri bahwa keliling indonesia jauh lebih menggairahkan daripada keliling eropa
  55. bagaimana menahan pecah tangis demi keselamatan hidup beserta sinusnya
  56. bagaimana rumusan cita-cita belum ada secara eksplisit, namun sudah jelas apa-apa yang ingin saya bangun
  57. bagaimana tiap malam membayangkan masa tua bersama hal-hal yang malam ini saya bicarakan
  58. bagaimana menghubungkan pekerjaan satu dengan lainnya (menulis dengan AM, yanda dengan saman, tugas kuliah dengan kampus update, artis youtube dengan rekening bank)
  59. bagaimana meyakinkan bahwa luka ryanda telah sembuh walaupun takkan sembuh
  60. bagaimana jerawat membuat hubungan saya memburuk, ya terserah deh.
hingga bagaimana menyambut 2014 yang akan dipenuhi angka 14 setiap harinya

terima kasih banyak 2013, tahun dimana saya membentuk diri lebih matang, lebih dewasa, lebih egois pada mereka yang kekanak-kanakan

terima kasih banyak tuhan, untuk umur yang belum diberi ujung akhir nafasnya, dan segala puji syukur selalu tercurah padamu

Friday, December 13, 2013

yesterday, you were brad pitt for me :(:

Brad Pitt about his wife:
My wife got sick. She was constantly nervous because of problems at work, personal life, her failures and children.She lost 30 pounds and weighted about 90 pounds. She got very skinny and was constantly crying. She was not a happy woman.She had suffered from continuing headaches, heart pain and jammed nerves in her back and ribs. She did not sleep well, falling asleep only in the mornings and got tired very quickly during the day.
Our relationship was on the verge of a break up. Her beauty was leaving her somewhere, she had bags under her eyes, she was poking her head, and stopped taking care of herself. She refused to shoot the films and rejected any role. I lost hope and thought that we’ll get divorced soon…

But then I decided to act.
After all I’ve got the most beautiful woman on earth. She is the idol of more than half of men and women on earth, and I was the one allowed to fall asleep next to her and to hug her. … I began to shower her with flowers, kisses and compliments. I surprised and pleased her every minute. I gave her a lot of gifts and lived just for her.

I spoke in public only about her. I incorporated all themes in her direction. I praised her in front of her own and our mutual friends.
You won’t believe it, but she blossomed. She became better. She gained weight, was no longer nervous and loved me even more than ever.
I had no clue that she CAN love that much.
And then I realized one thing: the woman is the reflection of her man.
If you love her to the point of madness, she will become it.

thank you @gladysfarige for sharing this love story :(:

have a good nap, ciao!